Tampilkan postingan dengan label Fatwa Syaikh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fatwa Syaikh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 September 2011

Tetap Istiqomah Setelah Ramadhan

Oleh: Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan 
Sufyan bin Abdillah berkata: “Ya Rasulullah, bertahukan aku tentang Islam yang tidak akan aku tanyakan kepada siapapun juga setelah ini.” Beliau berkata: “Katakanlah ‘aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqamahlah.” Hadits ini adalah dalil bahwa seorang hamba diwajibkan, setelah beriman kepada Allah, untuk menjaga dan tetap istiqamah dalam mentaati-Nya dengan melaksanakan kewajiban dan menjauhi perkara yang dilarang. Hal ini dicapai dengan mengikuti jalan yang lurus, yakni agama yang teguh, tanpa melenceng daripadanya ke kiri atau ke kanan. Jika seorang muslim menjumpai Ramadhan dan melewatkan hari-hari Ramadhan dalam puasa dan malam-malamnya dalam shalat, dan dalam bulan itu dia membiasakan dirinya dengan berbuat kebajikan, maka dia harus meneruskan tetap berada di atas ketaatan kepada Allah sepanjang waktu (setelahnya). Ini adalah keadaan sejati seorang hamba, karena sesungguhnya Tuhan bulan itu adalah Esa dan Dia selalu menggawasi dan menyaksikan hamba-hamba-Nya sepanjang waktu. Sungguh, istiqamah setelah Ramadhan dan perbaikan atas perkataan dan perbuatan seseorang adalah tanda-tanda yang paling besar bahwa seseorang telah mendapatkan manfaat dari bulan Ramadhan dan bahwa dia berjuang di dalam ketaatan. Itu adalah tanda diterimanya (ibadah) dan tanda-tanda keberhasilan. Lebih lanjut, amalan seorang hamba tidak akan berakhir dengan berakhirnya bulan (Ramadhan) dan dimulainya bulan yang lain. Bahkan mereka terus berlanjut sampai seseorang menemui ajalnya, karena Allah berfirman: “Dan sembahlah Tuhan-mu sampai datang kepadamu yang diyakini.” (QS Al-Hijr : 99) 
Apabilah puasa Ramadhan berakhir, maka sesungguhnya puasa-puasa sunnah tetap dianjurkan sepanjang tahun, Alhamdulillah. Bila berdiri dalam shalat pada malam-malam di bulan Ramadhan berakhir, maka sesungguhnya sepanjang tahun adalah waktu untuk melaksanakan shalat malam. Dan jika zakat fitri berakhir, maka masih ada zakat yang diwajbikan sebagaimana sedekah yang berlangsung sepanjang tahun. Demikian halnya dengan membaca Al-Qur’an dan merenungkan maknanya, begitu pula dengan amal-amal kebajikan lainnya yang diinginkan, karena hal-hal tersebut dapat dilaksanakan sepanjang waktu. Diantara banyak nikmat yang Allah berikan kepada hambahamba-Nya adalah Dia jadikan bagi mereka berbagai macam bentuk ibadah dan Dia menyediakan banyak sarana untuk berbuat kebajikan. Oleh karena itu, antusiasme dan semangat kaum muslimin mesti tetap terjaga dan dia harus terus-menerus berada dalam ketaatan kepada Tuannya. Sayang sekali bahwa sebagian orang melaksanakan ibadah dengan melakukan berbagai jenis amal ibadah di bulan Ramadhan – mereka benar-benar menjaga shalat lima waktu di masjid, mereka membaca Al-Qur’an sebanyakbanyaknya dan mereka bersedekah dari hartanya. Namun ketika Ramadhan berakhir, mereka menjadi malas dalam peribadatan mereka. Bahkan terkadang mereka meninggalkan kewajiban baik secara umum seperti shalat berjama’ah, maumpun secara khusus, seperti shalat subuh! Dan mereka bahkan melakukan perkara perkara yang dilarang seperti tidur pada waktu waktu shalat. memperturutkan kebodohan dan kesenangan, dan bercampur-baur di tempat parkir, khususnya pada hari Ied! Memohon pertolongan dari kejahatan-kejahatan ini hanya melalui kemurahan Allah. Karenanya, mereka meruntuhkan apa yang telah mereka bangun dan mereka menghancurkan apa yang telah dirikan. Ini adalah tanda kehilangan dan tanda kekahalahn. Kita memohon penjagaan dan perlindungan kepada Allah. Sungguh, orang-orang seperti ini mengambil contoh bertaubat dan mengurangi amal keburukan sebagai sesuatu yang khusus dan terbatas hanya pada bulan Ramadhan. Sehingga mereka berhenti melakukan amal kebajikan ketika bulan tersebut berakhir. Oleh karenanya, mereka seolah meninggalkan perbuatan dosa demi bulan Ramadhan, dan bukan karena takut kepada Allah! Alangkah buruknya orangorang ini yang tidak mengenal Allah kecuali pada bulan Ramadhan. Sesungguhnya, keberhasilan yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya terletak pada puasa Ramadhan. Dan Allah menolongnya untuk melakukan puasa adalah sebuah anugerah yang besar. Oleh karena itu, hal ini menyeru kepada hamba untuk bersyukur kepada Tuhan-nya. Dan pemahaman ini dapat ditemukan dalam firman Allah, setelah menyempurnakan bulan puasa: “ “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Baqarah [2] : 185). Maka seseorang yang bersyukur karena telah berpuasa, dia akan tetap pada kondisi yang demikian dan tetap mengerjakan amal-amal shalih. Sesungguhnya, sejatinya adab seorang Muslim adalah dia yang memuji dan bersyukur kepada Tuhannya karena dianugerahi kemampuan untuk berpuasa dan melakukan shalat malam. Keadaannya setelah Ramadhan lebih baik daripada sebelum Ramadhan. Dia lebih siap untuk taat, mengingikan perbuatan kebajikan dan bersegera melaksanakan kewajiban. Inilah orang yang takut puasanya tidak diterima, karena sesungguhnya Allah hanya menerima (amal ibadah) dari orang orang yang bertakwa. Para salafus shalih berusaha untuk mencukupkan dan menyempurnakan amalan-amalan mereka, berharap setelahnya amalan-amalan erseubt dapat diterima dan kahwatir apabila amalan-amalan tersebut ditolak. Diriwayatkan dari Alixbahwa dia berkata: “Perhatikanlah agar amalmu diterima dan bukan amal itu sendiri. Tidakkan engkau mendengar firman Allah: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (QS Al- Ma’idah [5] : 27) Aisyah c berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah s mengenai ayat: “Dan orang-orang ang menafkahkan harta mereka yang mereka berikan dengan hari yang gemetar karena tkut.’ Apakah mereka orang-orang yang minum khamr dan mencuri?” Beliau s menjawab: “Tidak, wahai puteri As-Siddiq. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa dan shalat dan berinfaq, namun mereka takut tidak diterima dari mereka. Mereka adalah orangorang yang bersegera dalam kebajikan dan mereka adalah orang yang pertama-tama mengerjakannya.” Maka berhati-hatilah, dan sekali lagi berhatihatilah – dari berpaling ke belakang setelah mendapatkan petunjuk, dari tersesat setelah terlindungi! Dan mohonlah kepada Allah untuk menjadikanmu kekuatan dalam mengerjakan amal shalih dan terus-menerus melaksanakan amal kebajikan. Dan mohonlah kepada Allah agar Dia mebemrikan kepadamu husnul khatimah, agar Dia menerima Ramadhan dari kita. Sumber: Ahadits Ash-Shiyam: Ahkam wa Adab (hal.

Selengkapnya......

Kamis, 25 Agustus 2011

Keqariban ditengah keghariban (pendekatan diri ditengah keterasingan)

Oleh:Ust Rahmat Abdullah

Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia bertanya : “Ya Rasul ALLAH, dekatkah tuhan kita? Sehingga saya cukup berbisik saja atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-NYA?”

Sebagian kita telah begitu ‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika beban-beban orang bertuhan telah mereka persetankan.

Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai. Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks, riba, suap, syahwat dan seterusnya, padahal mereka masih berpijak dibumi-NYA.

Betapa menyedihkan orang yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan, padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-NYA. Betapa bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan, mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun berikutnya, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.

Semua ayat dari 183 – 187 surah Al Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa. Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit mengeluarkannya dari inti hikmah puasa. “Dan apabila hamba-hambaku bertanya tentang Aku, maka katakanlah : sesungguhnya Aku ini dekat…( Al Baqarah : 185).

Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban (kedekatan) ini? Mereka jadi pandai tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa menit sebelum atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung kebangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukangtiru yang rakus.

Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang pohon bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran antar warga atau anggota lembaga tinggi Negara, bisniskan hukum, atau jual bangsa kepada bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini. Berapa lagi bayi lahir tanpa berstatus bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang menjadi keledai tunggangan para politisi bandit? Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu? Berapa banyak lagi kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?

Al Qur’an dulu baru yang lain

Bacalah Al-Qur’an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan perkaya wawasan dengan sirah, niscahya Islam itu terasa nikmat, harmoni, mudah, lapang dan serasi. Al-Qur’an membentuk frame berfikir. Al-Qur’an mainstream perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolak ukur keadilan, kewajaran, dan kesesuaian dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan pandangan parsial juz’i. penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang sederhana, menyentuh, aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam, menjauhkan perselisihan dan menghemat energi umat.

Betapa da’wah Al-Qur’an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan dijantung tempat kelahirannya sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad digaris depan, jauh sejak awal sejarah ini bermula. Bila Rasullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya yang paling banyak penguasaan Qur’annya. Bila menyusun komposisi pasukan, diletakannya pasukan yang lebih banyak hafalannya. Bahkan dimasa awal sekali ‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan “Siapa yang berani membacakan surat Arrahman di ka’bah?” Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau jera walaupun pingsan dipukul musyrikin kota Makkah.

Nuzul Qur’an di Hira, Nuzul Qur’an di hati

Ketika pertama kali Al-Qur’an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh manusia. Ia menjadi petunjuk sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar berguna bagi kaum beriman dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalakan rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan jadi kacau. Ada juga orang berfikir malam qodar itu selesai sudah karena ALLAH menyatakan dengan anzalnahu ( kami telah menurunkannya) tanpa melihat tajam-tajam pada kata tanazzalu’l Malaikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah para malaikat dan ruh), dengan kata kerja permanen.

Bila malam adalah malam, saat matahari terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya, fasiqnya dan shalihnya, munafiqnya dan shiddiqnya. Yahudi dan nasraninya? Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang dikawasan?

Jadi ketika Ramadhan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahaginya setiap mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Al-Qur’an dihati pada malam qadarnya masing-masing, saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang Pencipta. Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badanpun tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan dalam setiap kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah keterbatasan perut dan segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya kegembiraan dipuncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia ketika ajal tiba-tiba menemukan rambu-rambu: Stop!

Puasa: Da’wah, Tarbiyah, Jihad dan Disiplin

Orang yang tertempa makan (sahur) disaat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan, setelah siangnya berlapar haus atau menahan semua pembantal lahir bathin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalah-masalah da’wah dan kehidupannya tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan.

Musuh-musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan ditengah badai tak akan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya air diakhir malam, lapar dan haus diterik siang.


Mereka biasa berburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai keakhirat negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing. Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu memahami ajarannya sendiri? “Fadiqu’s Syai’la Yu’thihi’ (yang tak punya apa-apa tak kan mampu memberi apa-apa).

Wahyu pertama turun dibulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan. Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.

Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yang menunggu jawaban serius. ~KH. Rahmat Abdullah~

Selengkapnya......

Selasa, 23 Agustus 2011

Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Oleh: Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan
Aisyah berkata: “Ketika datang sepuluh
hari terakhr Ramadhan, “Nabi apabila
telah masuk sepuluh malam (yang akhir
dari bulan Ramadhan) maka beliau menghidupkan
malamnya - yakni melakukan ibadat pada
malam harinya itu, juga membangunkan isterinya,
bersungguh-sungguh - dalam ibadah - dan
mengencangkan ikat pinggangnya*.” (HR Bukhari
(4/269) dan Muslim (1174)
Hadits ini adalah dalil bahwa sepuluh hari terakhir
Ramadhan memiliki keutamaan khusus
atas hari-hari lainnya, dimana seseorang hendaknya
bertambah dalam ketaatan dan amal
ibadah, seperti shalat, berdzikir, dan membaca
Al-Qur’an.
Aisyah telah menggabarkan Nabi dan suri
tauladan kita, Muhammad s dengan empat
sifat:
1.Beliau “menghidupkan malam malamnya”,
maksudnya beliau tidak tidur selama
waktu tersebut. Dengan demikian, beliau
tetap terjaga sepanjang malam dalam ibadah
dan beliau menghidupkan jiwanya dengan
menghabiskan malam-malam tersebut tanpa
tidur. Hal ini karena tidur adalah saudara kematian.
Arti “menghidupkan malam-malamnya”
adalah bahwa beliau menghabiskannya
dalam qiyam (shalat malam) dan melakukan
amal ibadah yang dikerjakan karena Allah Rabbul
alamin. Hendaknya kita mengingat bahwa
sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah tetap
dan berbilang.
Adapun dari apa yang telah diriwayatkan mengenai
larangan menghabiskan sepanjang malam
dalam shalat, yang telah disebutkan dari
hadits Abdullah bin Amr, maka hal tersebut
berkenaan dengan seseorang yang melakukannya
secara terus-menerus setiap malam
sepanjang tahun.
2. Beliau “membangunkan keluarganya”,
maksudnya isteri-isteri beliau , ummahatul
mukminin, agar mereka dapat mengambil
bagian dalam mendapatkan kebaikan, dzikir,
dan amal ibadah selama waktu yang diberkahi
tersebut.
3. Beliau “bersungguh-sungguh (dalam
ibadah)”
, maksudnya beliau berjaga dan bersungguh-
sungguh dalam ibadah, menambah
amalan beliau dari apa yang telah beliau kerjakan
di dua puluh hari pertama (Ramadhan). Beliau
melakukan hal ini hanya karena Lailatul
Qadr terdapat dalam satu dari (sepuluh hari terakhir)
hari-hari tersebut.
4. Beliau “mengencangkan ikat pinggangnya”,
artinya bahwa beliau bersungguhsungguh
dan berupaya secara terus-menerus
dalam ibadah. Dikatakan juga bahwa hal itu berarti
belaiu s menjauhkan diri dari wanita.
Sepertinya hal ini lah yang lebih benar karena
hal tersebut senada dengan apa yang telah dise-
butkan sebelumnya dan dengan hadits Anas:
“Beliau menggulung tempat tidurnya dan
menjauh dari wanita (yakni isteri-isteri beliau).”
(Lihat Lata’iful Ma’arif, hal. 219)
Dan juga, beliau melaksanakan ‘itikaf dalam
sepuluh hari terakhir Ramadhan dan orang yang
melakukan ‘itikaf dilarang untuk berhubungan
(berjima’) dengan wanita.
Maka dari itu, wahai saudara-saudaku muslim,
berusahalah untuk mensifati dirimu dengan sifatsifat
ini. Dan jagalah shalat yang anda kerjakan di
tengah malam (tahajud) bersama Imam sebagai
tambahan dari shalat Tarawih (yang dilakukan di
bagian awal malam), sehingga kesungguhan anda
di sepuluh hari terakhir dapat melebihi dari dua
puluh hari yang pertama. Dan agar anda dapat
meraih sifat ‘menghidupkan malam dalam
ibadah” dengan shalat.
Dan anda harus bersabar dalam ketaatan anda
kepada Allah, karena sesungguhnya shalat malam
itu sukar, namun memiliki pahala yang besar.
Demi Allah, ini adalah kesempatan besar dalam
kehidupan seseorang dan sesuatu yang menguntungkan
untuk dimanfaatkan, bagi orang yang
Allah berikan karunia ini kepadanya. Dan seseorang
tidak mengetahui mungkin dia akan menemui
salah satu dari pahala Allah dalam shalat malam.,
yang akhirnya dapat menjadi penolong
baginya di dunia ini dan di hari kemudian. Para
salaful ummah biasa memanjangkan shalat malam,
mengerahkan usaha mereka. As-Sa’ib bin
Yazid berkata:
Abdullah bin Abu Bakar meriwayatkan: “Aku
mendengar ayahku (yakni Abu Bakar) berkata:
“Selama Ramadhan, kami mengakhiri shalat malam
dengan lambat dan kami segera menyuruh
para pembantu untuk menyediakan makanan
(sahur) karena khawatir fajar akan segera
tiba.” (Muwatta Imam Malik, juz 1, hal. 156)
Ada dua bentuk perjuangan jiwa yang dihadapi
kaum Mukminin selama Ramadhan: berjuang di
siang hari dengan berpuasa, dan berjuang di malam
hari dengan qiyam (shalat malam). Maka
barangsiapa yang mengumpulkan keduanya dan
memenuhi hak-hak keduanya, maka ia berada
diantara orang-orang yang sabar – orang-orang
yang akan ‘dicukupkan pahala mereka tanpa
batas.” (QS Az-Zumar : 10)
Sepuluh hari ini adalah bagian terakhir dari bulan
Ramadhan dan amalan seseorang berdasarkan
amalan terakhirnya. Sehingga mungkin saja
dia menemui Lailatul Qadr ketika sedang berdiri
dalam shalat kepada Allah sehingga seluruh
dosanya di masa lalu diampuni.
Dan seseorang harus mendorong, mengajak dan
membujuk keluarganya untuk melakukan amal
ibadah, khususnya di waktu yang agung ini dimana
tidak seorang pun mengabaikannya kecuali
dia telah ditinggalkan. Yang lebih menakjubkan
lagi dari ini adalah ketika manusia
mengerjakan shalat dan tahajud, sebagian orang
justru menghabiskan waktunya dalam perkumpulan
yang dilarang dan kegiatan-kegiatan
dosa. Hal ini sungguh merupakan kerugian
yang amat besar. Kita memohon perlindungan
kepada Allah.
Oleh Karena itu, tiba pada hari-hari terakhir ini
berarti masuk kedalam buah dari amal shalih
dalam apa yang tersisa pada bulan itu. Sungguh
sayang melihat sebagian manusia melampaui
batas dalam amal shalih, sepeerti shalat dan
membaca Al-Qur’an di bagian pertama dari bulan
Ramadhan, namun kemudian tanda-tanda
kelelahan dan kebosanan mulai tampak pada
mereka setelahnya, khususnya ketika datang
sepuluh hari terakhir Ramadhan. Meskipun kesepuluh
hari terakhir tersebut memiliki lebih
banyak keutamaan dibandingkan yang pertama.
Oleh karena itu seseorang harus menjaga dalam
berusaha, berjuang dan meningkatkan ibadahnya
ketika akhir bulan Ramadhan semakin
dekat. Dan kita hendaknya terus mengingat
bahwa amalan seseorang berdasarkan amalan
terakhirnya.

Selengkapnya......

Sabtu, 23 Juli 2011

RAMADHAN PERINGATAN BAGI PERSATUAN UMAT Oleh : Syaikh Muhammad Nashiruddin Al – Albani

"Puasa adalah hari dimana kalian berpuasa, Al-
Fithr adalah hari dimana kalian berbuka, sedang
Al-Adha adalah hari dimana kalian menyembelih
kurban."
At-Tirmidzi menilai "Hadits ini gharib hasan."
Al-Hafizh juga pernah meriwayatkan hadits
Aisyah secara mauquf. Hadits itu ditakhrij oleh Al
-Baihaqi melalui jalur Abu Hanifah yang memberitakan:
"Telah meriwayatkan kepadaku Ali bin
Al-Aqmar dari Masruq yang menceritakan:
"Saya hadir di hadapan Aisyah  pada hari
Arafah. la berkata: "Berilah minum sawiq (sejenis
minuman sari buah) kepada Masruq. Dan perbanyaklah
manisannya." Masruq melanjutkan: "Saya
lalu berkata: Sesungguhnya tidak ada yang
menghalangi berpuasa. kecuali kekhawatiranku
bahwa hari ini adalah hari Nahar, Aisyah menjawab:
"Hari Nahar adalah hari dimana manusia
menyembelih hewan kurban. Sedang Al-Fithr
adalah hari dimana mereka berbuka."
Saya berpendapat: Sanad ini jayyid (bagus)
dengan dukungan sanad sebelumnya.
Kandungan Hukumnya.
Imam Tirmidzi mengomentari hadits tersebut:
"Beberapa ulama menafsirkan hadits tersebut
dengan menjeiaskan: "Arti hadits itu adalah puasa
dan berbuka (tidak puasa) bersama jamaah dan
mayoritas manusia." Sementara Ash-Shan'ani di
dalam Subulus-Salam menegaskan: "Hadits itu
menunjukkan bahwa dalam menetapkan hari raya
adalah berdasarkan kesepakatan mayoritas. Orang
yang mengetahui hari raya secara individu. harus
menyesuaikan dengan yang lain. Demikian pula
dalam masalah shalat. berbuka. dan berkorban."
Ibnul-Qayyim menyebutkan pendapat yang
senada di dalam Tahdzibus-Sun an (3/214):
Dikatakan: "Hadits itu mengandung sanggahan
terhadap orang yang berpendapat bahwa seseorang
yang mengetahui terbitnya bulan berdasarkan
perhitungan (hisab) bukan ru'yah boleh
puasa dan boleh tidak. dimana hal ini tidak berlaku
bagi orang yang tidak mengetahuinya. Ada
pula yang mengatakan: Jika satu orang menyaksikan
hilal, sedang hakim belum menetapkannya,
maka tidak boleh berpuasa, seperti kebanyakan
orang."
Abul-Hasan As-Sanadi di dalam kitabnya Hasyiyah
ala Ibni Majah setelah menyebutkan hadits
Abu Hurairah tersebut dari At-Tirmidzi menandaskan:
"Yang jelas makna hadits itu adalah bahwa
perseorangan tidak memiliki pengaruh sedikitpun.
Mereka secara individual juga tidak diperbolehkan
memegang pendapatnya sendiri. Masalah
itu harus diserahkan kepada imam dan jamaah.
Dengan demikian, jika ada seseorang melihat
hilal, namun ditolak (tidak diakui) oleh imam,
maka pendapatnya tidak bisa dipakai. Bahkan ia
sendiri harus mengikuti imam dan jamaah.
Saya berpendapat: Makna inilah yang mudah dipahami
dari hadits di atas. Hal ini diperkuat dengan
hujjah Aisyah  terhadap Masruq yang tidak
mau berpuasa Arafah karena khawatir hari itu hari
Nahar. Aisyah menjelaskan bahwa pendapat pribadi
Masruq tidak bisa dipakai. Mau tidak mau
Masruq harus mengikuti mayoritas. Aisyah menjelaskan:
Nahar adalah hari. dimana manusia menyembelih
kurban. Sedang Al-Fithr adalah hari dimana
mereka harus berbuka."
Saya berpendapat: Inilah yang sepantasnya dipakai
dalam syari'at yang ramah ini, dengan maksud
untuk mempersatukan umat serta merapatkan
barisan mereka. Islam tidak menghendaki umat
bercerai berai hanya karena pendapat minoritas
orang. Karena itu syari'at tidak akan memperhitungkan
pendapat individual, mengenai ibadah-
Oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani v
ibadah yang dilakukan bersama-sama, meskipun
mencapai kebenaran. Seperti puasa, hari raya. shalat
berjamaah, dan Iain-lain. Anda bisa menyaksikan
bagaimana para sahabat bersedia shalat di belakang
sebagian sahabat yang lain. Di antara
mereka ada yang berpendapat menyentuh wanita,
keluarnya darah termasuk yang membatalkan
wudhu". ada pula yang tidak berpendapat
demikian. Ada yang me-nyempumakan shalat di
perjalanan, ada pula yang mengqasharnya. Namun
perbedaan-perbedaan itu tidak menghalangi
mereka untuk bersatu padu. shalat di belakang satu
imam serta menerimanya. Hal ini dikarenakan
mereka mengetahui bahwa berpecah-belah lebih
buruk dibanding berbeda pendapat. Ada seorang
ulama terkemuka di Mina yang praktis pendapat
pribadinya tidak dipakai. demi menghindarkan
dampak negatif yang muncul.
Abu Dawud (1/307) meriwayatkan. bahwa
Utsman _ melakukan shalat di Mina. Sebanyak
empat raka'at. Kemudian Abdullah bin Mas'ud
z memprotesnya tidak setuju: "Saya shalat bersama
Nabi s dua raka'at. Tapi bersama Utsman
pada awal kekhalifahannya empat raka'at. Sebab
itulah barangkali pendapat kalian menjadi berbeda
-beda. Tapi saya lebih senang jika empat raka'at
itu dijadikan dua raka'at. Namun kemudian Ibnu
Mas'ud melakukan shalat empat raka'at. sehingga
dikatakan kepadanya: "Engkau tidak menyetujui
Utsman. tetapi engkau sendiri melakukan shalat
empat raka'at." Mendengar itu Abdullah bin
Mas'ud menjawab: "Perbedaan pendapat ada-lah
buruk." Sanad ini shahih. Imam Ahmad (5/155)
juga meriwayatkan hadits yang senada dengan
ini, dari Abu Dzar _.
Maka hendaklah mereka yang selalu berpecah
belah dalam shalat merenungkan lebih dalam
lagi hadits dan atsar di atas. Juga mereka yang
tidak bersedia mengikuti imam masjid. lebihlebih
dalam masalah shalat witir pada bulan
Ramadhan hanya karena menilainya tidak mengikuti
madzhab yang dianut mereka. Ada pula
orang yang karena tahu sedikit tentang ilmu falak
kemudian melakukan puasa atau berbuka dengan
waktu yang ditetapkannya sendiri, dan berbeda
dengan yang dilakukan oleh mayoritas. la memakai
pendapat pribadinya, tanpa mempertimbangkan
pendapat mayoritas. Bahkan dengan tegas menyatakan
tidak sama dengan mayoritas. Hendaknya
mereka yang demikian itu merenungkan apa yang
telah saya sebutkan, sehingga dapat mengobati kebodohan
yang sebenaraya ada pada diri mereka
sendiri. Supaya barisan umat Islam benar-benar
rapat. Sebab ridha Allah ada di dalam jamaah.

Selengkapnya......

Jumat, 22 Juli 2011

MENYEBARKAN KABAR GEMBIRA AKAN DATANGNYA BULAN RAMADHAN Oleh:Syaikh Abdullah Fauzan


A bu Hurairah _ meriwayatkan bahwa Rasulullah
 berkata:
“Ramadhan telah datang kepadamu – bulan yang
diberkahi. Allah telah mewajibkan atas kalian berpuasa.
Padanya dibuka pintu-pintu surga dan ditutup
pintu-pintu neraka dan syaithan-syaithan
dibelenggu. Milik Allah lah satu malam di dalamnya
yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang
dihalangi dari kebaikan, maka dia telah ditinggalkan.”
(HR Ahmad dan An-Nasa’i).
Hadits tersebut adalah kabar gembira bagi hamba hamba
Allah yang shalih, akan datangnya bulan
Ramadhan yang diberkahi. Nabi  mengabarkan
kepada para sahabatnya akan kedatang bulan
Ramadhan dan hal itu bukanlah sekedar pengabaran
yang sederhana. Bahkan, beliau hendak
memberikan mereka kabar gembira akan sebuah
waktu yang diagungkan dalam setahun, sehingga
orang-orang shalih yang bersegera mengerjakan
amal kebajikan dapat memberikan haknya. Hal ini
karena Rosulullah menjelaskan di dalam hadits tersebut
bahwa Allah telah mempersiapkan bagi hamba hamba-
Nya jalan menuju ampunan dan keridhaan-
Nya – dan untuk itu terdapat banyak cara. Maka
barangsiapa yang melewatkan pengampunan tersebut
selama bulan Ramadhan, maka dia telah
tertinggal dengan ketertinggalan yang sangat.
Di antara keutamaan dan pahala yang besar yang
Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya
adalah Dia telah menyiapkan bagi mereka kesempatan
yang baik yang akan mendatangkan manfaat
bagi orang-orang yang taat kepada-Nya dan bagi
orang-orang yang berlomba-lomba (untuk kebaikan).
Kesempatan-kesemptan yang baik ini adalah
waktu untuk memenuhi harapan dengan memperbanyak
ibadah dan mengangkat kesalahankesalahan
dan kekurangan dengan memperbaiki
diri dan bertaubat.
Tidak ada satu kesempatan pun dari waktu-waktu
yang mulia ini, melainkan Allah telah mewajibkan
di dalamnya amal ketaatan, yang dengannya seseorang
menjadi lebih dekat kepada-Nya. Dan Allah
memiliki perkara-perkara yang paling indah sebagai
hadiah, yang dainugerahkan kepada siapapun yang
dikehendaki-Nya dengan Kemuliaan dan Rahmat-
Nya.
Maka orang yang meraih kebahagiaan yang sesungguhnya
adalah orang yang mengambil manfaat dari
bulan, hari-hari dan jam-jam yang mulia ini dan lebih
dekat kepada perlindungan-Nya bagi mereka,
dengan mengerjakan apa yang diperintahkan bagi
mereka dari amal-amal ketaatan.
Oleh karena itu, mungkin ia akan dianugerahi dengan
satu diantara banyak berkah pada kesempatan kesempatan
itu dan mendapat pertolongan dengannya,
dengan pertolongan yang dapat menyelamatkannya
dari neraka dan apa yang ada di
dalamnya, seperti panasnya yang membara. (Ini
adalah perkataan Ibn Rajab dalam Lata’iful Ma’arif).
Mendapati Ramadhan itu sendiri adalah berkah
yang agung, diberikan kepda orang yang mencapainya
dan meningkat pada kesempatankesempatannya,
dengan berdiri dalam shalat pada
malam harinya dan berpuasa pada siang harinya. Di
dalamnya, ia kembali kepada Pelindungnya – dari
bermaksiat kepada-Nya kepada ketaatan kepada-
Nya, dari melalaikan-Nya kepepada mengingat-
Nya, dari menjauh daripada-Nya kepada mendekat
kepada-Nya dengan taubat yang sungguh-sungguh.
Sebagian dari para salaf berkata:
“Sungguh Allah Ta’ala telah menjadikan bulan
Ramadhan sebagai pengganti bagi mahluk-Nya, dimana
mereka dapat berlomba satu sama lain
untuk keridhaan-Nya, dengan mentaati-Nya. Oleh
karenanya, sebuah kelompok yang datang pertama
kali dan karenanya mereka beruntung dan kelompok
lain datang di akhir dan karenanya mereka
gagal.” (Lata’iful Ma’arif oleh Ibnu Rajab).
Demikian juga, seseorang tidak mengetahui
mungkin ini adalah Ramadhan terakhir yang akan
di-temuinya semasa hidupnya jika dia menyempurnakannya.
Berapa banyak laki-laki, wanita dan anak
-anak berpuasa bersama kita tahun lalu, namun
sekarang mereka terkubur di dalam tanah, bergantung
pada amal baik mereka. Dan mereka berharap
untuk lebih banyak berpuasa Ramadhan.
2
Demikian juga, kita semua akan mengikuti jalan mereka.
Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk bergembira atas kesempatan
yang berharga untuk ketaatan ini, Dan dia tidak boleh meninggalkannya, Sebaliknya
menyibukkan dirinya dengan apa yang akan bermanfaat bagiya dan
apa yang menyebabkan hasilnya akan tetap tertinggal. Untuk apa lagi, selain
sejumlah hari-hari, dimana kita berpuasa di dalamnya dan yang akan segera
berakhir dengan cepat.
Semoga Allah menjadikan kami, demikian juga anda, diantara orang-orang
yang paling banyak mendapatkan amal kebaikan.
Sumber: Ahadits as-Siyam wal Adab hal. 3-15. CallToIslam.Com.

Wahai orang yang di bulan Rajab tidak menghentikan dosanya
Hingga mengdurhakai Rabb-nya di bulan Sya’ban
Sesugguhnya bulan puasa menaungimu setelah keduanya
Janganlah engkau jadikan juga sebagai bulan kemaksiatan
Bacalah Al-Qur’an dan bertasbilah dengan sungguh-sungguh
Karena sesungguhnya dia adalah bulan tasbih dan Al-Qur’an
Berapa banyak engkau mengenal para pendahulumu berpuasa
Maut menyirnakan mereka, membiarkanmu hidup sepeninggal mereka
Yang jauh akan menjadi dekat, alangkah cepatnya
Sumber: Majelis Syahri Ramadhan (id) oleh Syaikh Muhammab bin Shalih Al-Utsaimin
(hal. 14)

Selengkapnya......